Selasa, 11 Oktober 2016

Sudah 2X 10 Muharram.

Masih ku ingat sangat jelas segala yang kau ajarkan padaku. Bagaimana tentang arti hidup dan bermasyarakat ataupun dalam keluarga. Ketika itu Kadang ku remehkan semuanya seakan tak peduli akan hari nanti, dan kini semakin tampak segala apa yang pernah kau tekankan padaku. Aku memang anak kemarin yang baru belajar merangkak, belajar mengoceh atau berdiripun sering terjatuh.
Terasa sunyi saat semua berlari mengikuti waktu, jika berjalan bersamamu pasti semua tak akan seperti ini, tak akan ada air mata yang menetes percuma, tak ada kaki yang jalan sebelah, seandainya ribuan peluru datang tak akan ada yang mampu menembus karena engkau berada dibarisan paling depan, dan tak akan pernah menangis dalam sesal yang datang saat kami bergegas untuk  tidur. Namun karena semua pasti kembali kamipun bertahan, Bertahan ketika cuaca terik juga dingin menyerang, bertahan saat hujan turun melewati atap kami sudah retak, bertahan karena kami percaya bahwa masa depan masih menanti, bertahan saat kata tolong terucap hanya engkaulah orang yang mampu mengatasinya dan bertahan karena kami memiliki TUHAN yang telah berjanji untuk menyatukan kami bagi yang beriman.
Nara-ria kebanggaan tertinggi untukmu atas semua yang telah engkau berikan untuk negaramu, tembakan salvo pun tidak terdengar karena kami inginkan untukmu dekat dengan kami,meskipun engkau kembali namun terasa dalam pikiran dan rasa ini segala tentangmu masih berada didepan mata, tak mudah untuk merubah semua, kami telah merangkak perlahan, kami masih belajar berdiri dan suatu saat yakinlah  bahwa kami pun nanti pasti berlari. Namamu masih terjaga rapi disetiap sudut kampung, langkahmu jelas didepan mata atas semua yang telah dilakukan, senyum tipismu nampak semakin besarpun rindu kami untukmu, meski Tuhan tak mengijinkan untuk menyentuhmu lebih lama lagi namun kami meyakini bahwa rencana Tuhan pasti lebih indah dari pada makluknya. Kami yang selalu menyayangi dan merindukanmu dikala mentari datang lalu bersembunyi dan nama mu terdengar indah dalam setiap sujud. Ayaaaah 
29 January 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Hari ini menyapa

Aku dirumah hari ini ketika terbangun pagi tadi hidupku seperti ada sesuatu yang mengganjal. Mencoba berfikir sesampai disore dan aku terlelap keluarga berkumpul ditempat kakek hingga menjelang siang karena beliau sakit. Dan saat sore ingin datang hujan lebat hingga ku nikmati suasana gemricik air turun dari genting. Pantas saja ternyata ketika itu aku di marina bersama dan tak ada hujan dikala itu. Oh ternyata setiap tahun itu tidak pasti rasanya. Wisuda pula ketika itu ada udara dingin menjelma dengan kue dan potongan cemburu menyapa.
Melupakan jejak bukan seperti bermain gundhi malah mendekat bak mencumbu waktu. Dengan dua tiga ataupun lebih untuk menghitung tiap tanggal yang sama ketika itu. Entah terlalu sombong memang itu sudah menjadi serpihan bersama waktu. Dan tak berhenti cukup disini pilihanku dan pilihanmu itu pilihan yang memberatkan. Ya nikmati ini  prosesnya pasti suatu saat akan kembali seperti belajar bersepeda dan rindu ini akan perlahan menyatu dengan waktu yang selalu dicumbui. Oh iya sekarang aku baru ingat ketika itu seperti dikalender sama beberapa tahun lalu aku adalah pengusap air matamu yang setia.
                              9 Oktober 2016