Senin, 07 November 2016

Catatan kecil dan ucapan selamat

Dan ketika semua telah terjadi, seperti bunga pagi ini menahan embun untuk terjatuh dari dahannya. Hanya lelah yang tersisa diantara keramaian dan kerikil usang berserakan ditrotoar jalan. Gulita miliknya ketika pelita datang berjalan dengan angkuh. Bukan rindu kemarin sesaat membuka album dan bercerita malam ini. Pelan terdengar kalimatmu dan masih sama seperti dahulu. Aku tak mengapa jikapun kau bahagia, pilihanmu dan pilihanku semua sama saja. Sudah tak pernah ku jumpai wajah bimoli seperti ucapan waktu itu, hahaha tertawa dan sering kita menangis sendu bersama. Berjalan sendiri dengan helm dikiri oh sangat jauh rasanya hatiku dalam tanjakan penuh lampu kota. Dan aku hanya berdiam saja karena memang engkau beranggapan sudah cukup waktu untuk kita bersama. Embun dihari ini membawa harap supaya bertambah dewasa, selamat selamat namun tak lama lagi aku juga akan semakin menua. 


                  6 november 2016

Selasa, 11 Oktober 2016

Sudah 2X 10 Muharram.

Masih ku ingat sangat jelas segala yang kau ajarkan padaku. Bagaimana tentang arti hidup dan bermasyarakat ataupun dalam keluarga. Ketika itu Kadang ku remehkan semuanya seakan tak peduli akan hari nanti, dan kini semakin tampak segala apa yang pernah kau tekankan padaku. Aku memang anak kemarin yang baru belajar merangkak, belajar mengoceh atau berdiripun sering terjatuh.
Terasa sunyi saat semua berlari mengikuti waktu, jika berjalan bersamamu pasti semua tak akan seperti ini, tak akan ada air mata yang menetes percuma, tak ada kaki yang jalan sebelah, seandainya ribuan peluru datang tak akan ada yang mampu menembus karena engkau berada dibarisan paling depan, dan tak akan pernah menangis dalam sesal yang datang saat kami bergegas untuk  tidur. Namun karena semua pasti kembali kamipun bertahan, Bertahan ketika cuaca terik juga dingin menyerang, bertahan saat hujan turun melewati atap kami sudah retak, bertahan karena kami percaya bahwa masa depan masih menanti, bertahan saat kata tolong terucap hanya engkaulah orang yang mampu mengatasinya dan bertahan karena kami memiliki TUHAN yang telah berjanji untuk menyatukan kami bagi yang beriman.
Nara-ria kebanggaan tertinggi untukmu atas semua yang telah engkau berikan untuk negaramu, tembakan salvo pun tidak terdengar karena kami inginkan untukmu dekat dengan kami,meskipun engkau kembali namun terasa dalam pikiran dan rasa ini segala tentangmu masih berada didepan mata, tak mudah untuk merubah semua, kami telah merangkak perlahan, kami masih belajar berdiri dan suatu saat yakinlah  bahwa kami pun nanti pasti berlari. Namamu masih terjaga rapi disetiap sudut kampung, langkahmu jelas didepan mata atas semua yang telah dilakukan, senyum tipismu nampak semakin besarpun rindu kami untukmu, meski Tuhan tak mengijinkan untuk menyentuhmu lebih lama lagi namun kami meyakini bahwa rencana Tuhan pasti lebih indah dari pada makluknya. Kami yang selalu menyayangi dan merindukanmu dikala mentari datang lalu bersembunyi dan nama mu terdengar indah dalam setiap sujud. Ayaaaah 
29 January 2016

Minggu, 09 Oktober 2016

Hari ini menyapa

Aku dirumah hari ini ketika terbangun pagi tadi hidupku seperti ada sesuatu yang mengganjal. Mencoba berfikir sesampai disore dan aku terlelap keluarga berkumpul ditempat kakek hingga menjelang siang karena beliau sakit. Dan saat sore ingin datang hujan lebat hingga ku nikmati suasana gemricik air turun dari genting. Pantas saja ternyata ketika itu aku di marina bersama dan tak ada hujan dikala itu. Oh ternyata setiap tahun itu tidak pasti rasanya. Wisuda pula ketika itu ada udara dingin menjelma dengan kue dan potongan cemburu menyapa.
Melupakan jejak bukan seperti bermain gundhi malah mendekat bak mencumbu waktu. Dengan dua tiga ataupun lebih untuk menghitung tiap tanggal yang sama ketika itu. Entah terlalu sombong memang itu sudah menjadi serpihan bersama waktu. Dan tak berhenti cukup disini pilihanku dan pilihanmu itu pilihan yang memberatkan. Ya nikmati ini  prosesnya pasti suatu saat akan kembali seperti belajar bersepeda dan rindu ini akan perlahan menyatu dengan waktu yang selalu dicumbui. Oh iya sekarang aku baru ingat ketika itu seperti dikalender sama beberapa tahun lalu aku adalah pengusap air matamu yang setia.
                              9 Oktober 2016

Jumat, 12 Agustus 2016

Terbiasa

Bukan tanpa alasan yang telah terjadi antara aku dan kamu. Beberapa bulan terakhir ini rasanya sudah terbiasa tak ada yang perlu untuk dibuat panjang. Entah mengapa berjalan sudah berlalu sangat lama lama lama sekali, dan semua yang pernah ku tulis padamu tak berarti lagi. Memang aku sengaja berkabar sekali dalam sebulan untuk melihat semuanya dan ketika sudah nampak bahwa tak akan terulang lagi sajak2 sendu. Namun meski begitu biar saja semua mengalir bersama waktu jangan anggap seperti orang lain karena memang aku sudah pernah mencoba. 
Kini sudah menjadi pribadi yang berbeda ketika diawal dulu masih bergetar hatiku saat semua indra mencoba menyentuhmu, sampai hari ini jika tak mendengar namamu, aku sudah terbiasa. Tak mendengar suaramu aku sudah terbiasa, tak melihat akunmu aku sudah terbiasa dan tidak memandang gambarmu aku sudah terbiasa. Logikaku sudah matang untuk maju sudah jelas siapa yang mau didepan bersamaku, tak ingin rasaku untuk berdiam diri, karena masa depanku harus ku kejar diseberang. Aku bebas untuk melangkah semauku dan pastinya sudah ada yang menunggu disana meski masih samar2 dibalik bangunan tua. 
Minnalaidzin walfaidzin, maaf lahir dan batin. Selamat hari raya idul fitri 1437 H. Maaf untuk selama ini menjadi orang yang menjengkelkan.

                                                     ..... July 2016

Minggu, 24 Juli 2016

Musim gugur

Bulan memang datang sangat cepat, tidak dapat dirasa lagi sudah seperti mengalir ditemani hujan. Cerita tentang angin dengan daun separuh baya ini makin berlalu bertiup angin dari barat dan sekarang sendiri sendiri melambai pada udara yang menguap. Sudah terbiasa jika nanti berjatuhan ditanah pasti bertemu belalang tua. Mungkin tak akan ada lagi daun yang tersisa dibalik ranting ranting rapuh meskipun basah karena hujan. Dan sekitar yang dulunya hijau kini menguning berkawan dengan musim gugur tak ada yang peduli pada pelita meski sangat indah tanyanya. Ada sebuah rumah yang sudah tahu bahwa musim gugur pasti akan lama, si tuan bergegas melihat teras berserakan daun tua dan membuang semuanya. Akhirnya jika angin itu datang si tuan masih berdiri kokoh didepan tangga. Ia tidak peduli kata gereja karena memang angin tak akan datang lagi hingga musim gugur berikutnya.

                                              ..... June 2016

Minggu, 17 Juli 2016

De Javu Merayu Lagi

Ketika itu menghampiri memang bukan de javu merayu. Bukan tentang kesetiaan lagi bahkan dahan yang tertimpa embun pun bakal melayu. Ada burung gagak menari diantara pohon leban, kumbang yang awalnya bertanduk mematung dimana memang benar katanya. Dia yang dikenal menjadi orang lain dan entah mengapa kabar lalu datang bak pelangi setengah berdatangan. Masih Ti' pande, mun siluet dari ujung balik pepohonan ara sangat menarik tetapi tidak akan mengubah apapun karena memang hujan pasti akan turun cepat malam ini. Sudah berandai semoga saat nanti turun gagak tadi berlarian menjauh dari rumah. Aku bergegas dibalik selimutku karena memang de javu merayu lagi. Penggaris darinya tak bisa ditawar aku aku kamu dan kamu bahkan mereka ataupun serpihan kaca tertinggal sedikit memaksa. Pergilah sayang pakai kerudungmu bawa kantong buah ini untuk bekalmu, biar aku jaga rumah hingga parasku menua. Jangan menghadap kebelakang lagi memang inginmu diantara keramaian tidak mungkin panas ini akan membunuh karena tebal dagingku.

                                                                                                                             ..... Mei 2016

Minggu, 17 April 2016

Kisah kura-kura kecil

Pasir putih itu berdiam, kalau memang tak ada yang mengingatkan kura2 kecil untuk maju mendekati lautan atau mundur kembali pada rimbun semak-semak. Sebab pasir masih sengaja berdiam, semestinya jika mencintai laut ocehan camar tak peduli kata terlambat untuk menikmati dimana takdirnya berada diantara air dan karang. Namun kaki renta untuk melangkah dibawah pohon tengah ia sekuat mungkin bertahan sembari menanti angin berhembus bersama ranting berjatuhan.
 Pasir masih tetap berdiam melihat dari jauh bisakah segala terhapus ombak yang tiba-tiba datang karena memang jejak kura-kura tak ada tertinggal sebab cukup sekian tak pandai ia berjuang untuk pasir. Padahal putih pasir hanya menunggu jejak kecil kura-kura untuk menyentuhnya disaat akhir tetap bertahan atau mendekat dan berjalan bersama menuju samudra mengejar senja. Bukan kura-kura kemarin mohonnya yang membuat tangisan menanti induk datang karena hampir tiga kali musim penghujan ia masih tetap sama. Hingga purnama ketiga datang, pasir masih tetap berdiam bersabar menanti dalam harap untuk dibantu ombak surut menghapus cerita namun kura-kura masih ingin ditemani ranting berjatuhan. Katanya, ia yakin jika nanti kelak tak akan ada cerita lagi antara pasir, air ataupun karang dalam kehidupannya seusai tanah subur diguyur cemburu bersama hujan. Segalanya bersedih antara mampu melalui masa sulit diantara pilihan yang memberatkan boleh maju ataupun bertahan ternyata hanya sementara. Untuk terakhir kalinya masih berdiam, ungkapan rindu terbawa angin dengan sedikit canda dan indahnya kebersamaan pun menghampiri.
Dan ketika purnama kedelapan datang, benarkah tampak memang kura kura kecil memilih untuk beranjak diantara semak dan pasir masih tetap berdiam sebab ia tak suka ancaman yang kadang ketika itu berujung dengan perpisahan. Ternyata antara Kura-kura dan pasir yang selama ini bersama dikala terik atau badai itu adalah dalam kotak kaca dengannya dan pagi ini terbalik dipantai di temani maaf memang begitu dan bukan begitu karenanya kura-kura kepada pasir berserakan.
                                     .....,april 2016