Minggu, 17 April 2016

Kisah kura-kura kecil

Pasir putih itu berdiam, kalau memang tak ada yang mengingatkan kura2 kecil untuk maju mendekati lautan atau mundur kembali pada rimbun semak-semak. Sebab pasir masih sengaja berdiam, semestinya jika mencintai laut ocehan camar tak peduli kata terlambat untuk menikmati dimana takdirnya berada diantara air dan karang. Namun kaki renta untuk melangkah dibawah pohon tengah ia sekuat mungkin bertahan sembari menanti angin berhembus bersama ranting berjatuhan.
 Pasir masih tetap berdiam melihat dari jauh bisakah segala terhapus ombak yang tiba-tiba datang karena memang jejak kura-kura tak ada tertinggal sebab cukup sekian tak pandai ia berjuang untuk pasir. Padahal putih pasir hanya menunggu jejak kecil kura-kura untuk menyentuhnya disaat akhir tetap bertahan atau mendekat dan berjalan bersama menuju samudra mengejar senja. Bukan kura-kura kemarin mohonnya yang membuat tangisan menanti induk datang karena hampir tiga kali musim penghujan ia masih tetap sama. Hingga purnama ketiga datang, pasir masih tetap berdiam bersabar menanti dalam harap untuk dibantu ombak surut menghapus cerita namun kura-kura masih ingin ditemani ranting berjatuhan. Katanya, ia yakin jika nanti kelak tak akan ada cerita lagi antara pasir, air ataupun karang dalam kehidupannya seusai tanah subur diguyur cemburu bersama hujan. Segalanya bersedih antara mampu melalui masa sulit diantara pilihan yang memberatkan boleh maju ataupun bertahan ternyata hanya sementara. Untuk terakhir kalinya masih berdiam, ungkapan rindu terbawa angin dengan sedikit canda dan indahnya kebersamaan pun menghampiri.
Dan ketika purnama kedelapan datang, benarkah tampak memang kura kura kecil memilih untuk beranjak diantara semak dan pasir masih tetap berdiam sebab ia tak suka ancaman yang kadang ketika itu berujung dengan perpisahan. Ternyata antara Kura-kura dan pasir yang selama ini bersama dikala terik atau badai itu adalah dalam kotak kaca dengannya dan pagi ini terbalik dipantai di temani maaf memang begitu dan bukan begitu karenanya kura-kura kepada pasir berserakan.
                                     .....,april 2016

Sabtu, 16 April 2016

Si merah cerah

Entah mengapa menit ke-40 rasa ini serasa memudar. Tak mungkin bertanya pada rintik hujan sebab ia jatuh bukan karena kasihan dengan tanah mungkin masih baru ia menyapa. Di awal begitu sangat menggebu kini meski namamu terucap pelan dan hanya mampu berangan. Lalu berfikir tak harus lama namun seakan melangkah bukan pasti antara kembali berdiri atau tetap duduk dibangku. Tak mudah menulis cerita hanya berisi sajak tentangmu ataupun ocehan keseharian dengan kalimat yang sama. 
Kemarin terasa dekat nafasmu bersamaku, sore ini jejakmu entah kearah mana kau pun terbagi dua. Aku masih berandai jika nanti dan jika nanti ataupun esok kelak senyum yang berjarak tak ada lagi batas untukku mengusap cerita lalu mu. Makin nampak siapa dan belum jelas bayangku masih sembunyi dibalik rindangnya pepohonan hijau berlumut itu. Terkadang jenuh untuk memulai jika pada akhirnya akan tetap sama dengan pasir yang mengikuti derasnya air. 
Langit biru dan senja memiliki cerita sendiri dalam masa pengabdian pada sesama diantara pengasingan tak ada segala. Kesamaan ini menahan agar dalamnya rasa masih berada ditepi jika nanti terjatuh tak lagi dalam lalu mudah untuk beranjak dengan mencari akar baru untuk berpijak. Namun semakin dirasa bukan inginku karena kesepakatan berawal dari cerita padi sebelah yang sukar untuk merunduk. Mungkin begini saja pelangi hadir dengan warnanya, berharap kelak pelangi yang sama akan selalu ceria dan mengendap lalu dapat kusentuh di setiap saat diawal merah dan seterusnya.

                                       Awal april 2016

Pohon itu menua

Dua puluh sembilan minggu setelah kaki semakin jauh berjalan. Mencoba melompat meski sesekali teringat akan tentangmu. Kadang aku berfikir dengan bagaimana cara mu menghilangkan semuanya. Konyol memang jika dirasa tetapi mungkin itulah jalan yang terbaik untuk menunjukkan siapa kau sebenarnya. Benarlah jika memang begitu adanya, hingga anehnya sekitar pun tak ada yang memihakmu. Pernah mencoba melihat dalam air jernih dikala bayangmu memantul, tengoklah untuk membuatmu bertanya. Tak sebentar kau mengenalku, namun sampai saat itu pun masih tak mengerti bagaimana segalanya berjalan. Hingga terakhir ku berusaha mengubah egomu masih tetap sama, dan waktu yang sudah ditentukan tak bisa lagi ingin berusaha. Cukup saja jika semua masih tetap sama, bukan ini bukan itu inginku bukan juga inginmu sampai nanti. Tenggelam dalam keangkuhan, mati dalam keegoisan dan terpancung dalam kecemburuan, mungkin saja suatu saat nanti jika kau beranjak usia kelak memahami mengapa hati tulus cintaimu kemudian menyerah pada sifat yang memang dirimu. Masih banyak puisi tentangmu terlahir berdasar cerita awal diantara kerumunan. Menari dalam ruang hampa terkadang diatas terkadang dibawah semua berjalan antara susah senang dan air mata ketiadaan kau setia mengikuti jejak langkahku dan kaupun yang berusaha mengubah masih saja aku tegak mengerti. Bercacak membawa cerita hingga di ujung jalan itu, duduk pada persimpangan menunggu tolen yang kau lakukan tanpa memanggilku. Kosong memang dirimu yang mampu menarik perhatianku padahal sebentar lagi matahari mulai terbenam inginku bersamamu menikmati malam hingga menunggu mentari berdiri dan pohon itu menua.

... Maret 2016