... Maret 2016
Sabtu, 16 April 2016
Pohon itu menua
Dua puluh sembilan minggu setelah kaki semakin jauh berjalan. Mencoba melompat meski sesekali teringat akan tentangmu. Kadang aku berfikir dengan bagaimana cara mu menghilangkan semuanya. Konyol memang jika dirasa tetapi mungkin itulah jalan yang terbaik untuk menunjukkan siapa kau sebenarnya. Benarlah jika memang begitu adanya, hingga anehnya sekitar pun tak ada yang memihakmu. Pernah mencoba melihat dalam air jernih dikala bayangmu memantul, tengoklah untuk membuatmu bertanya. Tak sebentar kau mengenalku, namun sampai saat itu pun masih tak mengerti bagaimana segalanya berjalan. Hingga terakhir ku berusaha mengubah egomu masih tetap sama, dan waktu yang sudah ditentukan tak bisa lagi ingin berusaha. Cukup saja jika semua masih tetap sama, bukan ini bukan itu inginku bukan juga inginmu sampai nanti. Tenggelam dalam keangkuhan, mati dalam keegoisan dan terpancung dalam kecemburuan, mungkin saja suatu saat nanti jika kau beranjak usia kelak memahami mengapa hati tulus cintaimu kemudian menyerah pada sifat yang memang dirimu. Masih banyak puisi tentangmu terlahir berdasar cerita awal diantara kerumunan. Menari dalam ruang hampa terkadang diatas terkadang dibawah semua berjalan antara susah senang dan air mata ketiadaan kau setia mengikuti jejak langkahku dan kaupun yang berusaha mengubah masih saja aku tegak mengerti. Bercacak membawa cerita hingga di ujung jalan itu, duduk pada persimpangan menunggu tolen yang kau lakukan tanpa memanggilku. Kosong memang dirimu yang mampu menarik perhatianku padahal sebentar lagi matahari mulai terbenam inginku bersamamu menikmati malam hingga menunggu mentari berdiri dan pohon itu menua.
... Maret 2016
... Maret 2016
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar