Entah mengapa menit ke-40 rasa ini serasa memudar. Tak mungkin bertanya pada rintik hujan sebab ia jatuh bukan karena kasihan dengan tanah mungkin masih baru ia menyapa. Di awal begitu sangat menggebu kini meski namamu terucap pelan dan hanya mampu berangan. Lalu berfikir tak harus lama namun seakan melangkah bukan pasti antara kembali berdiri atau tetap duduk dibangku. Tak mudah menulis cerita hanya berisi sajak tentangmu ataupun ocehan keseharian dengan kalimat yang sama.
Kemarin terasa dekat nafasmu bersamaku, sore ini jejakmu entah kearah mana kau pun terbagi dua. Aku masih berandai jika nanti dan jika nanti ataupun esok kelak senyum yang berjarak tak ada lagi batas untukku mengusap cerita lalu mu. Makin nampak siapa dan belum jelas bayangku masih sembunyi dibalik rindangnya pepohonan hijau berlumut itu. Terkadang jenuh untuk memulai jika pada akhirnya akan tetap sama dengan pasir yang mengikuti derasnya air.
Langit biru dan senja memiliki cerita sendiri dalam masa pengabdian pada sesama diantara pengasingan tak ada segala. Kesamaan ini menahan agar dalamnya rasa masih berada ditepi jika nanti terjatuh tak lagi dalam lalu mudah untuk beranjak dengan mencari akar baru untuk berpijak. Namun semakin dirasa bukan inginku karena kesepakatan berawal dari cerita padi sebelah yang sukar untuk merunduk. Mungkin begini saja pelangi hadir dengan warnanya, berharap kelak pelangi yang sama akan selalu ceria dan mengendap lalu dapat kusentuh di setiap saat diawal merah dan seterusnya.
Awal april 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar